Masa Lalu Sebagai Pelajaran Berharga Masa Depan

obachti 95 - Seburuk apapun masa lalu tetap saja itu adalah pelajaran untuk masa depan, itu menurut saya. Jika sobat nggak sependapat sah-sah saja. Sering kali orang tua, maupun dewasa mengatakan "saya nggak mau anak saya kelak bernasib sama seperti saya", atau "saya tidak ingin kamu bernasib sama seperti saya".

Maksudnya pasti bukan sebuah keberhasilan yang dicapai, itu pasti merujuk pada kegagalan yang dialami oleh si orangtua.ya kan? Siapapun orangtua pastilah berfikir demikian, harapannya adalah si buah hati nantinya akan tumbuh besar dengan segala sesuatu yang lebih baik. Hal ini sah – sah saja. Walaupun ada pepatah yang menyebutkan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”.

A
da sebuah kisah yang saya baca dari kompasiana.com yang di tulis atas nama Ajeng Leodita Anggarani, Seorang wanita (sebut saja namanya Warta) yang memiliki pekerjaan PSK (Pekerja Seks Komersial) pada lingkungan mengenai pekerjaannya sudah menjadi rahasia umum. Cibiran, Cacian, hinaan Seringkali mengisi kesehariaanya. Ia keluar rumah pukul 7 malam, dan kembali kerumah sebelum matahari terbit.


W
arta sudah pernah menikah, ia memiliki 2 anak dari dua orang suami. Sebelum memiliki anak, Warta memang sudah menjadi seorang PSK. Dan perkawinannya biasanya terjadi karena “kebablasan”. Namun setelah dinikahi, Warta pun diceraikan. Begitu hingga dua kali terjadi. Kedua putri Warta tak pernah tahu apa pekerjaan ibunya. Orangtua Warta pun hanya mengatakan pada kedua cucunya bahwa ibu mereka sedang mencari uang untuk makan. Lagipula usia mereka masih terlalu kecil untuk memahami apa itu PSK dan apapula pekerjaannya.


U
sia semakin bertambah, Warta kini memiliki banyak saingan. PSK yang bermunculan jauh lebih muda, cantik dan segar, akhirnya Warta mulai mencari uang tambahan dengan bekerja sebagai wasit billiard. Disana Warta berkenalan dengan seorang lelaki matang yang adalah Bandar judi bola, sebut saja namanya Aldi. Waktu berlalu mereka pun menjadi sepasang kekasih. Sampai akhirnya Aldi mengajak Warta untuk membina rumah tangga. Aldi tahu bagaimana masa lalu Warta. Menurut Aldi itu tak jadi masalah, karena ia hanya butuh seorang wanita yang akan mengurus anak – anaknya nanti.


D
an mereka pun menikah. Kedua putri Warta tidak pernah tahu darimana ibu mereka mengenal papa tirinya. Mereka hanya menerima keputusan ibunya untuk menikah lagi dan berjanji akan memberikan penghidupan yang layak. Warta juga seringkali memperingatkan pada suaminya jika jangan pernah membahas tentang masa lalu mereka di hadapan anak – anak.


W
aktu terus berjalan. Warta pun melahirkan anak dari suami ketiganya itu. keuangan Warta membaik. Rumah mereka yang awalnya mengontrak kini berganti dengan sebuah rumah sederhana atas nama dirinya. Aldi mampu memberikan apapun yan dibutuhkan Warta dan ketiga anak mereka. Kedua putri Warta tumbuh menjadi remaja yang cantik. Mereka sudah mengenal cinta monyet. Saat kedua putrinya sudah mulai besar, Warta sudah tak lagi bekerja. Karena semua sudah ditanggung oleh Aldi. J`di semakin sukses saja Warta menutup rapat kisahnya di masa lalu. Dan ia sepertinya sudah bisa tenang.

N
amun pada suatu hari, anak sulungnya pulang kerumah dengan menagis sesenggukan. Warta yang sedang mengurus bayinya bingung. Ia bertanya,”kenapa kok nangis?”. Si anak diam menunduk dan semakin kencang menangisnya.


W
arta bertanya sekali lagi,”kenapa nangis? Ayo bilang sama mama. Jangan begitu!”

Anaknya mengangjat wajahnya dan memandang ke arah Ibunya dan menatap mata Warta dengan tajam sambil berkata,”Tadi aku mau di cium sama pacarku. Aku nggak mau. Tapi dia bilang supaya aku jangan munafik. Karena mamaku dulu pelacur. Dan aku pasti tidak jauh berbeda dengan mama. Kenapa mama nggak pernah cerita ke aku? Kenapa aku harus tahu dari oranglain? Kalau aku tahu dari dulu, pasti aku nggak akan sekecewa ini ma. Mama pembohong!!” 

W
arta tak mampu menjawab. Dia hanya diam sambil menahan tangis. Ia tak menyangka, aib yang sudah ia jaga selama ini tercium juga oleh putrinya.

Picture from http://onomenulis.wordpress.com/
Dari kalimat si anak sulung Warta, kita bisa memahami, bahwa seburuk apapun masa lalu orangtua, si anak akan jauh lebih bisa menerima daripada harus mendengar dari orang lain. Karena akan jauh lebih memalukan. Jika anak tahu dari awal pastinya mentalnya akan jauh lebih siap. Salam buat mama ku. :(

sumber : kompasiana.com

Related Posts:

Disqus Comments
© 2017 Obachti 95 - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger